Kamis, 24 Maret 2016

Georgetown: Kota Tua Rasa Tionghoa

Melintasi jalanan di Pulau Penang, Malaysia seolah terbawa ke masa 90-an. Di kota ini, pengendara sepeda motor masih banyak yang menggunakan kendaraan-kendaraan tua. Demikian pula pengendaranya, sama tuanya. Didukung dengan gedung-gedung lama yang kurang terawat serta udara yang panas, Penang seolah menjadi satu pulau yang kelam.

Destinasi favorit
Namun demikian, di salah satu sudut Pulau Penang terdapat satu kawasan menjadi destinasi favorit para turis, George town. Di kawasan ini banyak dijumpai bangunan-bangunan tua yang terdiri dari kuil, kedai kopi, dan toko souvenir. Nuansa tionghoa di kota ini sangat kental yang dapat dilihat dari beragam ornamen yang menghiasi setiap bangunan.
Yang menjadi daya tarik George town adalah karya seni jalanan yang dapat dijumpai di berbagai sudut jalan. Setiap tahunnya, diadakan festival George Town yang mengundang para seniman untuk berkarya di jalanan kota tua ini. Alhasil, banyak wisatawan yang datang untuk menyaksikan karya-karya seniman yang terbalut dalam nuansa tionghoa.

Kombinasi Artistik
Ada banyak karya seni dengan beragam tema yang dapat dijumpai di George Town. Umumnya, para seniman mengombinasikan seni lukis dengan berbagai benda. Salah satu karya seni yang menarik adalah Children on Bicycle karya Ernest Zacharevic yang terdapat pada salah satu dinding jalan. Karya seni ini mengombinasikan lukisan di dinding dengan produk sepeda sungguhan sehingga menarik banyak wisatawan untuk dijadikan objek foto. Keberadaan karya-karya seni ini menjadikan George town menjadi kota tua yang artistik nan unik, layaknya kota Pelajar di Indonesia, Jogyakarta.
Meskipun kota ini tua, transportasi umumnya sudah sangat bagus. Terdapat banyak bus umum yang kondisinya sangat baik dan modern. Dengan bus ini, wisatawan dapat mengunjungi berbagai tempat  yang pada umumnya adalah tempat-tempat ibadah.

@dwilestarin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar