Jumat, 05 Juli 2013

A Place Where the Art Begin

Studio visit to Nasirun Art House

Memasuki wilayah Perumahan Bayeman Permai yang terletak di Jl Wates Yogyakarta langsung bisa menangkap rumah mana yang menjadi griya milik seniman. Rumah yang penuh dengan tatanan tanaman hijau yang dikolaborasikan dengan bambu-bambu yang unik sangat mengesankan bahwa rumah itu milik seseorang yang berjiwa seni tinggi. Ya, mudah saja menebak bahwa rumah itu milik sang pelukis ternama Jogja, Nasirun.
Ruang Gallery

Memasuki rumah Nasirun saya disambut oleh Pipin, salah satu asistennya yang kemudian mengantarkan saya ke ruang Gallery yang berada di seberang rumahnya. Di perumahan itu, Nasirun memiliki tiga rumah yang bersebelahan. Satu rumah untuk ruang Gallery, satu untuk studio produksi karya, dan satu lagi untuk ditinggali bersama keluarga.
“Pak Nasirun sedang istirahat, silakan lihat-lihat dulu” kata Pipin, sambil berjalan ke Gallery. Sesampainya di Ruang Gallery, saya mendapati beberapa pengunjung lain yang sudah lebih dulu datang. Hari itu Gallery Nasirun sengaja diluangkan untuk studio visit yang menjadi salah satu rangkaian acara Festival Kesenian Yogyakarta.
Ornamen Buah Kelapa

Gallery dan Studio
Karya pertama yang saya jumpai saat pertama kali memasuki Ruang Gallery adalah sebuah patung kerbau karya Budi Ubrux yang sangat identik dengan artistik koran. Ruang Gallery terdiri dari dua lantai dengan konsep borderless, sedikit ruang untuk mengoptimalkan penempatan karya. Ruang utama di lantai satu digunakan untuk memajang karya-karya seniman Indonesia yang dikoleksi Nasirun. Sedangkan lantai dua digunakan untuk memajang karya-karya lain seperti wayang, sculpture, dan instalasi.


Keluar dari Ruang Gallery, pengunjung diajak memasuki rumah Nasirun yang lain, yaitu studio Nasirun. Rumah ini digunakan sebagai ‘dapur’ Nasirun dalam memproduksi karya-karyanya. Banyak sekali keunikan yang disuguhkan di studio ini. Bagian atas rumah ini terdapat buah kelapa sebanyak tujuh ratus buah yang digantung. Tentunya bukan kelapa sungguhan. “Maksud buah kelapa ini sederhana, kita hidup kan tidak bisa lepas dari tanaman ini,” terang Sigit, asisten Nasirun yang memandu pengunjung. Sama halnya dengan ruang Gallery, Studio ini juga terdiri dari lantai. Di lantai dua terpajang lukisan sepanjangan 50 meter yang baru saja diselesaikan Nasirun dkk untuk pameran di Bentara Budaya. Bila dilihat dari karya-karya yang ada di studionya, terlihat bahwa Nasirun selalu mengusung konsep budaya lokal di setiap karyanya.

Sosok Nasirun
Setelah cukup lama saya mengelilingi gallery dan studio, barulah Pak Nasirun menampakkan diri. Meskipun belum pernah bertemu langsung dengan seniman ini, namun kaos hitam, jins belel dan rambut gondrongnya cukup memudahkan saya untuk memastikan sosok Nasirun. Saya dan pengunjung lain kemudian diajak ke ruang tengah untuk ngobrol bersama. Dan nasirun pun mulai bercerita tentang perjalanan hidupnya.

Nasirun bersama pengunjung
Kesuksesan Nasirun sebagai seorang seniman ternyata tidak terlepas dari perjuangan hidup masa muda yang cukup berat. Sebelum menjadi seniman profesional, Nasirun sempat berjualan batik dan lukisan di wilayah Tamansari dan Malioboro. Titik balik kehidupan karirnya diawali ketika ada seorang penikmat seni asal Australia yang mengagumi lukisannya dan membawa karyanya untuk dipamerkan. Sejak itu karyanya mulai dikenal hingga dikoleksi oleh Oe Hong Djin, kolektor terkenal dari Magelang. Dan saat ini, Nasirun sudah memproduksi lebih dari 1000 karya yang menjadi koleksi banyak kolektor.