Rabu, 22 Desember 2010

Semangat Belajar

Semangat Belajar. Kalimat singkat itu terdengar sangat simpel dan ringan. Bukan sekedar semangat belajar mata kuliah yang diberikan dosen, namun belajar yang lebih luas dari itu. Tercetus sambil lalu oleh orang-orang yang memberi salam motivasi kepada orang lain atas sesuatu yang telah diraihnya. Sangat lumrah.

Namun jika dikupas lebih dalam, kalimat motivasi tersebut sangat dalam maknanya ketika itu diucapkan kepada seseorang yang baru saja mengemban suatu amanah yang cukup besar, mungkin dalam organisasi, atau dalam hal lainnya. Adanya amanah baru yang menuntut seseorang untuk berada pada posisi yang belum pernah dirasakannya sebelumnya itulah, mengapa muncul kalimat semangat belajar. Dan sepertinya semua orang demikian. Melalui masa-masa penyesuaian dan pengendalian diri untuk mencari sikap-sikap terbaik yang seharusnya ditunjukkan. Semua orang dituntut untuk belajar memahami segala kondisi dan mamapu mengelola apapun yang terjadi di dalamnya.

Kalimat itu hanya akan terasa sangat berarti ketika seseorang merasakan suatu kondisi yang tidak selalu baik, karena hidup memang akan selalu dinamis.

Sabtu, 26 Juni 2010

Additional Power from Panic

Melakukan sesuatu yang sudah diniati dari dalam hati terkadang masih sulit untuk direalisasikan lantaran sifat dasar seseorang: malas. Terlebih ketika hal yang ingin dilakukan merupakan sebuah inisiatif pribadi yang tidak ada harga mati berapa lama melakukannya. Contoh saja ketika seseorang sedang berinisiatif ingin merapikan kamar tidurnya. Sebenarnya tidak dirapikan pun tidak akan menjadi masalah selama masih dirasa nyaman. Persepsi semacam itulah yang kadang menyelimuti niat baik seseorang yang sebenarnya sudah berinisiatif membersihkannya. Maka timbullah perasaan malas dan membelenggu power seseorang untuk beranjak melakukan niatnya.

Namun ketika tiba-tiba ada seorang teman atau saudara yang ingin menginap di kamarnya, pasti akan timbul suatu respon yang berbeda. Niat membersihkan kamar bukan lagi hanya sekedar niat, namun seolah telah dikonversi menjadi sebuah power yang menggerakkan seseorang untuk segera melakukannya. Perasaan malu, jaim(jaga image), takut dan sebagainya seolah menjadi sebuah bumbu ajaib yang mampu mendorong seseorang untuk melakukan suatu hal.

Contoh di atas hanya sebuah analogi terkait apa yang memang dialami anak muda pada umumnya. Kebanyakan orang masih belum memberikan penghargaan yang besar terhadap dirinya sehingga dengan mudah me-nego komitmen yang telah disusunnya sendiri. Melawan keinginan-keinginan yang bertentangan dengan komitmen awal memang menjadi sebuah dilema tersendiri bagi seseorang. Dan hal itu hanya mampu dikendalikan oleh orang itu sendiri. Ketika melihat fakta bahwa seseorang melakukan sesuatu dengan baik dan lebih cepat ketika mendapat sebuah deadline atau harga mati terhadap sesuatu yang dikerjakannya, ada baiknya mulai memikirkan reward and punishment untuk diri sendiri. Bentuknya seperti apa tentu saja ditentukan oleh masing-masing orang. Langkah kecil menuju konsistensi yang tinggi.

Rabu, 17 Februari 2010

Membersihkan Gigi bukan dengan Lidah


Seorang dokter gigi harus rela pulang lebih larut dari biasanya setelah menerima pesan singkat dari salah satu pasiennya. Dokter spesialis orthodensia yang sudah bertahun-tahun menangani kawat gigi ini belum tahu apa yang terjadi. Pesan singkatnya hanya berisi sesuatu yang darurat dan membutuhkan bantuannya segera.

Ditunggu cukup lama, Sang pasien datang dengan membekap mulutnya dengan tangannya sendiri. Sang Dokter pun masih penuh tanda tanya ketika menemui pasiennya. Ketika ditanya, pasien tidak berbicara dan hanya memberi isyarat dengan menunjukkan mulutnya. Seketika Sang Dokter pun paham apa masalahnya. Lidah pasiennya tersangkut pada ujung kawat gigi dan tidak dapat terlepas. Sedikit terkekeh, namun menunjukkan raut wajah yang terkejut. Dokter pun berkata dengan jujur bahwa dirinya baru kali ini menemui pasiennya yang lidahnya tersangkut kawat sampai berdarah-darah dan tidak bisa dilepas. Dengan peralatan yang dimilikinya, sesegera mungkin dokter itu mengambil tindakan untuk membebaskan lidah pasien. Setelah sukses, dokter pun melepaskan tawa yang sepertinya memang sudah ditahannya. Ada-ada saja masalah konyol yang terjadi pada pasiennya.

Pasien pun bercerita bagaimana lidahnya bisa tersangkut hingga tidak bisa kembali. Sepele ternyata. Dirinya risih dengan sisa makanan yang biasanya tersangkut di antara gigi dan kawatnya, sehingga ia menggunakan lidahnya dengan sedikit memaksa untuk menghilangkan sisa makanan itu. Alhasil, lidahnya tersangkut pada ujung kawat dan terjadilah semua hal di atas.
Masalah tadi masalah yang bisa dikatakan konyol, namun juga berbahaya.
Menghilangkan sisa makanan di gigi khususnya bagi yang berkawat sejatinya memang menggunakan sikat gigi, bukan dengan lidah. Bukan soal mana yang lebih mudah dilakukan setelah makan atau sudah terbiasa, namun membiasakan menggosok gigi setiap selesai makan tentu akan membuat gigi lebih sehat dan terjaga.

Sabtu, 13 Februari 2010

Belajar Beresiko dengan Bermain Ice Skating


Permainan ice skating yang ada di mall-mall memang bukan permainan yang mudah. Bagi pemula yang baru pertama kali mencoba sering kali terjatuh karena belum terbiasa dengan medan yang licin. Membutuhkan latihan dan keberanian untuk melangkah di atas sepatu pisau yang tajam. Semakin berani untuk lebih cepat melangkah, semakin cepat pula memahami medan es yang dipijaknya. Namun, semakin berani melangkah semakin besar pula resiko untuk jatuh. Dan, jatuh di medan es yang keras dengan kecepatan tinggi tentu saja berbahaya.

Belajar bermain ice skating seperti halnya belajar menghadapi resiko dalam segala pilihan. Jika tidak berani mengambil resiko, orang tidak akan pernah melihat peluang kemampuannya. Terkadang di balik resiko yang besar tersimpan kesuksesan yang besar pula. Orang yang berani mengambil resiko untuk terjatuh di medan es lebih cepat menguasai cara bermain. Meskipun memang harus terjatuh, setidaknya hal itu membukakan pintu pelajaran untuk menjadi lebih baik.

Rabu, 10 Februari 2010

Kuwaru: Pantai Indah Penuh Semak

Jogja memiliki banyak kawasan wisata pantai. Hanya saja, tidak semuanya terkenal seperti layaknya pantai parangtritis yang selalu ramai dikunjungi wisatawan. Di wilayah srandakan, tersimpan satu pantai yang masih sepi, pantai kuwaru. Di kalangan anak muda, pantai ini sering dijadikan alternatif berwisata. Wajar saja, pantai ini belum mengenakan biaya retribusi masuk, sehingga lebih menghemat biaya. Lewat jejaring sosial seperti facebook, keberadaan pantai ini menjadi semakin eksis dan memancing semakin banyak orang untuk mengunjunginya.
Untuk menuju kuwaru membutuhkan perjalanan yang cukup jauh dan melewati jalan pedesaan yang sempit. Di sekeliling pantai hanya terdapat beberapa rumah penduduk yang menjelma menjadi pondok pondok makan yang menyediakan ikan segar. Tidak jauh berbeda dari pantai depok memang. Hanya saja, jumlah pondok makannya masih sedikit. Di pinggir pantai juga hanya ada sedikit perahu nelayan. Selebihnya hanya ada pasir hitam yang kasar.
Untuk ukuran wilayah yang belum begitu terjamah oleh pengunjung, pantai ini terbilang kotor. Pasirnya sudah banyak terkontaminasi oleh sampah-sampah plastik yang mengganggu pemandangan.
Hal yang mungkin sedikit membedakan pantai kuwaru dengan pantai yang lain, terletak pada hutan bakau yang membentang di bibir pantai. Hutan yang terlihat seperti kumpulan semak berfungsi untuk menahan air laut supaya ketika pasang. Selain itu, keberadaannya juga mempercantik pantai karena terlihat lebih hijau dan asri.