Halaman

Minggu, 12 Juni 2011

Episode Parkir

kumpulan episode yang berhubungan dengan parkir, tukang parkir, dan sejenisnya.

Episode 1: Ongkos Parkir @L*rissa

Ini jaman2 ongkos parkir masih galau antara 500 perak sama 1000. Pak parkirnya ga ngasih tulisan ongkos pula di karcis parkir. Sebelumnya pernah datang kesana ga sampai 5 menit karna cuma beli produk, dan kasih 500 perak, dan diterima dengan baik. Kesimpulan: brarti ga masalah. Stelah itu datang kesana lagi dengan tujuan yang sama. Cuma kali ini rada lama karena antri. Keluar toko langsung siapin 500 dan kasih ke pak parkir.

Pak parkir: 1000 mbak

Saya: lah kan cuma bentar pak. Biasanya kalo cuma bentar saya bayar segitu.

Pak parkir: (mikir) … Lha ini mesinnya dah dingin mb. *sambil nggrundel

???

Sejak kpn ongkos parkir diukur pake temperatur mesin? Ini salah yang ngeyel ato yang markirin? Salah sendiri ga ditulis ongkosnya di karcis.

Episode 2: Debat ongkos @Ampl*z

Biasanya parkir kalau ga di dalem ya diluar, tapi yg masuk ke rumah parkir. Biasanya pula ongkosnya 1000. Tapi pas suatu saat saya cuma pengen ngambil servisan kacamata yang sepertinya cuma bentar, maka parkir diluar yang dipinggir jalan.

Pak parkir: 2000 mb, bayar skarang.

Saya: he? 2000?

Pak parkir: Iya, biasanya segitu mb.

Saya: Pak, saya kesini bukan sekali ini aja, baru kemaren saya kesini parkir yg didalem rumah situ ga kepanasan, ga keujanan, bayar 1000 kok.

Pak parkir: kalo ga percaya tanya aja smuanya juga sgitu.

Saya: Kalo gitu mending parkir dalem dong, kalopun sama 2000 ga keujanan. (iseng, tapi tetep ngeluarin 2000)

Pak parkir: *buruburu balikin 1000.

Saya: ??? Pie je pak??

Episode 3: KIK @KPFT

Parkir di sini biasanya bayar 500 perak, ga peduli mahasiswa teknik atau bukan. Dan dalam hal ini, hadirnya KIK cukup menjadi penyelamat, karena sejak diberlakukan kartu kendaraan itu, parkir di KPFT jadi tanpa ongkos.

Pada portal-portal UGM yang dijaga pak satpam, umumnya membebaskan pengendara motor yang ber-KIK untuk masuk ke wilayah UGM. Baru keluarnya menunjukkan kartu KIK.

Suatu pagi, ada urusan di KPTF, dan parkir di sana. Lewat di post satpam, bapaknya diem dan saya langsung tancap parkir (biasanya, yang parkir tanpa KIK harus mampir ke pak satpam untuk dikasih kartu parkir).

Baru setelah saya melenggang ke arah plaza KPFT si bapak satpam manggil:

Pak satpam: Mbak! mau kemana?

saya: Ke KPFT pak

Pak Satpam: ngapain?

Saya:lantai 3 pak

pak Satpam: bawa KIK gak?

Saya : Baawaaa..

Pak Satpam : Woo.. omong nek nggowo KIK!

????

Kenapa juga petugas suka ribet. Bener tu ya kaya satpam2 di portal boulevard dan sekitarnya, yang masuk bebas ya asumsinya udah bawa KIK. Yang penting kan keluarnya nunjukin.

Episode 4 : Debat tempat parkir @Foodcourt

Beruntungnya UGM membangung gelanggang mahasiswa yang diintegrasikan dengan tempat makan (foodcourt). Sebagai anak gelanggang yang biasa bebas parkir di gelanggang, tentunya lebih memilih parkir di dalam. Eh, pas mau makan di foodcourt, Pak Parkir ribut.

Pak Parkir : Mbak, kalau mau makan parkir disini. Kalau mau olah raga baru parkir di dalam

Saya: Lah, saya emang dari dalem pak. (ngeles dikit laah)

—-dan saya makan—-

—-dan pas mau balik—-

Pak parkir: 1000 mbak

Saya: Laah.. orang saya parkir di dalem.

Pak Parkir: Mbak, mata saya tu jeli, orang mbak kesini tu ke foodcourt kok

Saya: La saya juga ada urusan di gelanggang, ngapain parkir disini?

Pak parkir: Lain kali banyak amal aja mbak.

???

—-dan semua berakhir dengan tanda tanya—

Rabu, 16 Maret 2011

Karena Kita Belum Jadi Apa-Apa

Apakah kamu berpikir teman sekelompokmu mengerjakan tugas di kampus akan mengerti ketika kamu harus rapat pemuda, atau mengurus ktp di kecamatan, atau mengantar tetangga ke puskesmas karena amanah dari ayah??
Atau apakah ketika kamu berpikir tanggungjawabmu di organisasi yang membuatmu memprioritaskannya, teman-temanmu yang lain berpikir sama denganmu??
Apakah semua yang telah kaurencanakan selalu berjalan sesuai dengan harapan??
apakah... apakah... apakah.... masih banyak pertanyaan yang muncul dari dalam hati ketika kamu mengalami benturan kepenting.

Tidak. Dan sama sekali.
Mungkin teman di kampus akan bilang 'oke', tapi kamu tidak pernah tau apa isi kepalanya. Atau kalau kamu mengutamakan tugas di kampus supaya tidak dicap numpang nama, mungkin teman rapatmu tidak masalah (dan tidak akan merasa dirugikan), dan yang muncul paling hanya sebuah persepsi kalau kamu sibuk.

Mungkin ketika kamu memprioritaskan organisasi, temanmu memprioritaskan tugas kuliahnya, lalu teman yang lain memprioritaskan keluarganya, kalau mau yang lebih parah, teman yang lain lebih memprioritaskan jalan dengan teman atau pacar.

Nothing's ideal. Sempat terpikir benturan kepentingan semacam itu hanya masalah komunikasi. Bagaimana kita menyampaikan dan berusaha membuat orang lain mengerti. Namun ternyata itu saja tidak cukup. Tidak semua orang berhati malaikat, yang ketika kita bilang "maaf, aku ada urusan di X" kemudian temanmu menjawab, yaudah gapapa, sante aja.
Mendapati hal semacam itu, sepertinya lebih pantas disebut keberuntungan. Maksudnya, kamu belum melakukan sesuatu yang membuatmu selamat dari benturan kepentingan.
Bagaimana cara sesungguhnya, mari mencari...

Yang jelas, berpikirlah bahwa semua kepentingan itu adalah kebutuhanmu. Bukan km dibutuhkan. Sedibutuhkan apapun kasusnya, toh kamu masih anak kuliah, sama dengan orang-orang yang bekerja denganmu. Tidak ada border seperti kalau sudah kerja dan jadi bos. Itu mungkin lain ceritanya. Kamu masih belajar, sama dengan yang lain. Belajar untuk menjaga semua kepentingan yang menjadi konsekuensi dari semua langkahmu. Tidak perlu mengkoar-koarkan kepentinganmu sehingga membuat orang terpaksa memahami keterbatasanmu. Salah-salah kalau yang kamu ajak bicara ternyata lebih berkapasitas darimu, cuma akan gigit jari.

Dan yang perlu diingat, orang lain yang berhubungan denganmu tidak akan merasa dirugikan ketika kamu menanggalkan salah satu kepentinganmu. Karena kamu bukan lagi balita yang selalu dituruti orang tua tiap ingin beli balon karena takut nangis.

Karena kita belum jadi apa-apa...