Rabu, 16 Maret 2011

Karena Kita Belum Jadi Apa-Apa

Apakah kamu berpikir teman sekelompokmu mengerjakan tugas di kampus akan mengerti ketika kamu harus rapat pemuda, atau mengurus ktp di kecamatan, atau mengantar tetangga ke puskesmas karena amanah dari ayah??
Atau apakah ketika kamu berpikir tanggungjawabmu di organisasi yang membuatmu memprioritaskannya, teman-temanmu yang lain berpikir sama denganmu??
Apakah semua yang telah kaurencanakan selalu berjalan sesuai dengan harapan??
apakah... apakah... apakah.... masih banyak pertanyaan yang muncul dari dalam hati ketika kamu mengalami benturan kepenting.

Tidak. Dan sama sekali.
Mungkin teman di kampus akan bilang 'oke', tapi kamu tidak pernah tau apa isi kepalanya. Atau kalau kamu mengutamakan tugas di kampus supaya tidak dicap numpang nama, mungkin teman rapatmu tidak masalah (dan tidak akan merasa dirugikan), dan yang muncul paling hanya sebuah persepsi kalau kamu sibuk.

Mungkin ketika kamu memprioritaskan organisasi, temanmu memprioritaskan tugas kuliahnya, lalu teman yang lain memprioritaskan keluarganya, kalau mau yang lebih parah, teman yang lain lebih memprioritaskan jalan dengan teman atau pacar.

Nothing's ideal. Sempat terpikir benturan kepentingan semacam itu hanya masalah komunikasi. Bagaimana kita menyampaikan dan berusaha membuat orang lain mengerti. Namun ternyata itu saja tidak cukup. Tidak semua orang berhati malaikat, yang ketika kita bilang "maaf, aku ada urusan di X" kemudian temanmu menjawab, yaudah gapapa, sante aja.
Mendapati hal semacam itu, sepertinya lebih pantas disebut keberuntungan. Maksudnya, kamu belum melakukan sesuatu yang membuatmu selamat dari benturan kepentingan.
Bagaimana cara sesungguhnya, mari mencari...

Yang jelas, berpikirlah bahwa semua kepentingan itu adalah kebutuhanmu. Bukan km dibutuhkan. Sedibutuhkan apapun kasusnya, toh kamu masih anak kuliah, sama dengan orang-orang yang bekerja denganmu. Tidak ada border seperti kalau sudah kerja dan jadi bos. Itu mungkin lain ceritanya. Kamu masih belajar, sama dengan yang lain. Belajar untuk menjaga semua kepentingan yang menjadi konsekuensi dari semua langkahmu. Tidak perlu mengkoar-koarkan kepentinganmu sehingga membuat orang terpaksa memahami keterbatasanmu. Salah-salah kalau yang kamu ajak bicara ternyata lebih berkapasitas darimu, cuma akan gigit jari.

Dan yang perlu diingat, orang lain yang berhubungan denganmu tidak akan merasa dirugikan ketika kamu menanggalkan salah satu kepentinganmu. Karena kamu bukan lagi balita yang selalu dituruti orang tua tiap ingin beli balon karena takut nangis.

Karena kita belum jadi apa-apa...