Halaman

Selasa, 23 Juni 2015

Hidup dengan Hati di Suku Baduy

Memasuki terminal Ciboleger, Banten, mata saya dipertemukan dengan beberapa pemuda berpakaian hitam, penutup kepala putih, dan tas kain. Mereka telanjang kaki dan membawa tongkat kayu. Dari penampilannya, mudah saja menebak bahwa mereka adalah orang-orang Suku Baduy Dalam.
Terminal Ciboleger adalah starting point bagi wisatawan yang akan melakukan perjalanan ke Suku Baduy. Disinilah pemberhentian terakhir kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Selanjutnya, wisatawan harus berjalan kaki hingga sampai Suku Baduy.
Untuk sampai di Ciboleger, wisatawan yang datang tanpa kendaraan pribadi dapat menggunakan mobil 'omprengan' dari Stasiun Rangkas Bitung. Umumnya, mereka yang datang dari Ibu Kota menggunakan kereta dari Stasiun Duri dan berhenti di Stasiun Rangkas Bitung. Perjalanannya kurang lebih 2-3 jam. Sedangkan dari Rangkas Bitung menuju Ciboleger, masih diperlukan perjalanan kurang lebih 1,5 jam dengan medan yang cukup menantang. Tapi, ini baru pemanasan!

Wisata Suku
Pemuda-pemuda yang tadi saya lihat ternyata adalah orang-orang yang akan memandu kami untuk sampai di Baduy Dalam. Mereka sekaligus menawarkan jasa sebagai porter, pembawa barang-barang wisatawan.

Sapri, pemuda berusia 18 tahun ini adalah salah satu porter rombongan kami. Dia membawa dua ransel besar yang dia kaitkan pada sebatang kayu di pundaknya. Sapri berjalan bersama kami tanpa alas kaki, namun tidak ada raut lelah sedikitpun di wajahnya. Selama perjalanan, saya dan pengunjung lain suka bertanya banyak hal tentang kehidupan di sukunya.

Sapri bercerita sepanjang jalan dengan sangat ramah. Keramahan Sapri pun seolah merepresentasikan keramahan warga Suku Baduy yang sangat menghormati wisatawan yang berkunjung ke kampung mereka. Sesampainya di kampung mereka, wisatawan dipersilakan untuk menginap di rumah-rumah penduduk disana. Rumahnya sangat sederhana. Seperti rumah-rumah di desa, rumah-rumah di Suku Baduy masih menggunakan dinding dari anyaman bambu yang sering disebut 'gedhek' oleh orang jawa. Satu kampung terdapat sekitar lima puluh rumah. Jika penghuninya meningkat, suku baduy akan membuka lahan baru untuk dijadikan pemukiman.
Layaknya suku lain yang memiliki upacara adat, Suku Baduy pun memiliki ritual adat mereka sendiri. Keyakinan yg mereka anut disebut Sunda Wiwitan. Namun tak ada satu wisatawan pun yang pernah menyaksikan upacara adat mereka. Meskipun menyambut baik wisatawan, penduduk Suku Baduy tidak mengizinkan wisatawan datang ketika mereka sedang melaksanakan upacara adat mereka.

Pernikahan di Suku Baduy dilakukan melalui perjodohan oleh orang tua. Sang anak tidak diperbolehkan membangkang untuk dijodohkan meskipun telah menaruh hati pada seseorang. Sang anak pun tidak dapat meminta kepada orang tua untuk dijodohkan dengan orang di inginkan. Prinsipnya, suku ini sangat menjunjung tinggi rasa hormat kepada orang tua. Anak tidak boleh mendikte orang tua.

Mendengar cerita itu saya tertarik untuk bertanya kepada Sapri, apakah dia tertarik pada seorang wanita.
"Dia sudah menikah," ucap Sapri sambil tersenyum. Namun tidak terlihat kekecewaan di wajahnya. Hanya ekspresi polos dan ikhlas. "Kita anak, tidak boleh mendikte orang tua," lanjutnya. Sesaat saya takjub mendengar ucapan Sapri. Pada dasarnya apa yang dianut oleh Suku Baduy adalah hal-hal yang baik. Seorang anak tidak berhak mendikte orang tua, karena orang tua pasti akan memberikan segala hal yang terbaik untuk anaknya.

Perjalanan Panjang
Untuk mendapatkan nilai-nilai hidup dari Suku Baduy memang ada harga yang harus dibayar. Untuk bisa berinteraksi dengan mereka dibutuhkan perjalanan kurang lebih enam jam dengan berjalan kaki. Rute yang dilewati adalah bukit ke bukit, sehingga harus beberapa kali mendaki, turun, hingga menyeberang sungai. Melelahkan? Pasti! Namun sesampainya di perkampungan Baduy Dalam, keringat akan terbayar oleh perkampungan yang asri, suasana yang damai, dan penerimaan penduduk yang hangat.

Suku Baduy Dalam masih cukup anti dengan modernitas. Mereka tidak menggunakan produk-produk industri. Segala aktivitasnya masih sangat dekat dengan alam. Mandi, mencuci, dan sebagainya masih dilakukan di sungai. Dan inilah salah satu pengalaman paling unik para wisatawan yang datang ke suku ini.

@dwilestarin


Kamis, 29 Januari 2015

Di Balik Semangat Bangun Putera

Bangun Putera adalah Sekolah Luar Biasa di salah satu sudut Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sekolah ini terdapat anak-anak berkebutuhan khusus dengan beragam disabilitas, termasuk keterbelakangan mental.

Hari Sabtu (13/12/14), bersama dengan rekan-rekan mahasiswa dari Unit Penalaran Ilmiah UGM, saya berkunjung ke sekolah ini untuk berbagi dengan murid-murid Bangun Putera.

Membimbing Difabel
Kami mempersiapkan beragam keterampilan dan beberapa perlombaan. Lomba yang kami usung sederhana, seperti makan kerupuk, melempar bola, lari kelereng, dan menangkap ikan. Namun untuk anak dengan keterbelakangan mental, hal ini tidak semudah yang dibayangkan. Kami perlu mendampingi setiap murid supaya dapat mengikuti lomba dengan baik. Membimbing anak-anak ini tidak semudah membimbing anak-anak normal. Ada saja tingkah polah mereka. Tak jarang ada anak yang tiba-tiba lari begitu saja sesuka hati ketika sedang mengikuti lomba.

Jika kami kewalahan, sesekali para guru membantu menangani murid. Para guru senantiasa berada di sekeliling kami. Mata para guru tak sedikitpun berlalu dari para murid, seolah memastikan bahwa mereka dapat mengikuti acara kami dengan baik.

Dedikasi di Balik Prestasi
Usai perlombaan, tak disangka ternyata pihak sekolah pun telah mempersiapkan pertunjukan dari perwakilan murid untuk menyemarakkan acara kami. Tiga orang murid dengan keterbelakangan mental menari reog lengkap dengan kostum pendukung. Gerakan tubuh mereka mengikuti iringan gending jawa dengan teratur. Tak hanya itu, ada pula pertunjukan fashion show dari murid-murid perempuan yang berlenggak bak peragawati. Mereka berdandan dengan kostum yang cantik. Ternyata, gadis-gadis ini baru saja memenangkan lomba fashion show internasional untuk difabel. Luar biasa!

Setelah merasakan sendiri bagaimana susahnya membimbing anak-anak berkebutuhan khusus, saya semakin salut pada para guru di Bangun Putera. Mereka mendedikasikan hidupnya untuk membimbing anak-anak ini hingga dapat berkreasi bahkan berprestasi. Ini tidak mudah, mereka paham itu. Diperlukan ekstra kesabaran dan keteguhan untuk bisa mengajari anak-anak difabel. Dan tanpa mereka, siapa yang akan membukakan jendela ilmu anak-anak itu?

Jumat, 23 Januari 2015

Ngacir ke Pulau Cipir

Hidup di Jakarta tak selamanya harus beradu dengan hiburan kota seperti mall. Di Jakarta bagian utara, terdapat pulau-pulau kecil yang disebut kepulauan seribu. Pulau Cipir adalah salah satu pulau yang letaknya paling dekat dari daratan Jakarta. Pulau ini satu komplek dengan pulau lain yang berdekatan seperti Pulau Onrust dan Kelor. Komplek pulau ini dikenal dengan wisata sejarahnya yang menyimpan bangunan-bangunan lawas peninggalan Belanda.

Dermaga Muara Kamal
Untuk menuju ke Pulau Cipir, perjalanan dimulai dari dermaga Muara Kamal. Dari Jakarta, tempat ini dapat diakses dengan Trans Jakarta jurusan kalideres dan berhenti di halte Rawa Buaya. Turun dari halte biasanya sudah ada angkutan yang menawarkan tumpangan untuk sampai ke dermaga Muara Kamal.

Di Muara Kamal akan dijumpai pemandangan pelelangan ikan lengkap dengan aromanya yang menyengat. Di sekeliling dermaga berjajar rumah penduduk yang bersanding dengan genangan-genangan air laut. Lingkungannya yang tidak teratur sebenarnya kurang layak untuk menjadi pemukiman. Namun disaat yang sama menjadikan orang tahu, bahkan di tempat yang tak nyaman pun, orang bertahan hidup.

Wisata Pulau
Dari dermaga Muara Kamal, wisatawan akan diangkut menggunakan kapal kecil yang berkapasitas 20 orang. Perjalanan ke Pulau Cipir memakan waktu kurang lebih satu jam. Cukup lama memang, namun di sepanjang perjalanan mata akan disuguhi pemandangan laut yang menyegarkan mata.

Di Pulau Cipir terdapat reruntuhan bangunan lama yang tadinya adalah rumah sakit pada jaman Belanda. Pulau ini cukup kecil, sehingga tidak butuh banyak waktu untuk mengexplore nya. Dalam satu hari, wisatawan dapat mengunjungi tiga pulau sekaligus.

Pepohonan dan suara ombak di Pulau Cipir memberikan relaksasi tersendiri. Menikmati angin dan hamparan laut sejauh mata memandang seakan mengembalikan semua kelelahan setelah beraktivitas di hari kerja. Karena jarak tempuhnya tidak begitu jauh dan hanya memakan satu hari, tak butuh wacana khusus untuk bersinggah kesini.

Kamis, 08 Januari 2015

Beradu dengan Badai di Ciwidey

Bandung adalah kota dengan pilihan wisata yang lengkap. Dari wisata kota, kuliner, belanja, hingga wisata alam tersimpan di ibukota periangan ini. Jika ingin berpaling dari rutinitas kota yang padat, Bandung punya Ciwidey yang dapat menjadi 'pelarian' mencari udara segar.

Kawah indah berbalut kabut
Ciwidey adalah suatu desa yang terletak sekitar 35 km di selatan kota Bandung. Di tempat ini, terdapat beragam wisata alam pegunungan yang akan memanjakan mata dan kamera setiap pengunjungnya.

Obyek wisata favoritnya adalah Kawah Putih, kawah dengan air hijau jernih yang terbalut kabut. Berhiaskan pepohonan tak berdaun, tempat ini seolah menjadi suatu dunia lain yang fantastis.

Perjalanan Panjang
Untuk menuju Ciwidey, diperlukan perjalanan yang cukup panjang, terlebih jika akhir pekan atau musim liburan. Karena jalannya yang sempit dan banyaknya pengunjung, macet adalah syarat sah untuk bisa menikmati indahnya Ciwidey.

Meskipun jauh dan macet, akses menuju Ciwidey cukup mudah. Jika ingin traveling ala backpacker, tersedia angkutan umum yang berangkat dari terminal Leuwi Panjang menuju terminal Cibeureum. Sampainya di Cibeureum berganti angkutan kecil berwarna kuning yang akan mengantarkan wisatawan sampai ke lokasi.

Beradu dengan badai
Setelah berperang dengan kemacetan, sampai di lokasi kawah pun wisatawan masih harus beradu dengan hujan badai jika berkunjung di musim hujan. Ditambah dengan kabut tebal dan angin pegunungan, perjalanan menuju kawah putih menjadi cukup menantang. Wisatawan akan cukup kesulitan untuk berfoto ditengah angin, hujan, dan kabut. Namun hal itu akan menjadi pengalaman foto yang tak terlupakan.

Danau, Air Panas, dan Kebun teh
Selain kawah putih, obyek pendamping lainnya adalah Situ Patenggang, danau yang akan mengajak pengunjungnya berlayar di atas gunung. Di tempat ini menyediakan perahu-perahu kecil yang akan mengantarkan wisatawan berkeliling danaub dan menikmati sensasi dinginnya angin gunung. Tempat ini hanya sekitar 3 km dari obyek wisata Kawah Putih.

Obyek lain yang sayang dilewatkan adalah pemandian air panas Ciwalini dan kebun teh yang terbentang di sepanjang jalan. Selain itu, banyak pula kebun stroberi yang menawarkan pengunjung untuk memetik sendiri.

Selasa, 11 November 2014

Tenang Sejenak di Kampung Berua

Kampung Berua, satu kampung di salah satu sudut Sulawesi Selatan adalah satu destinasi yang sayang dilewatkan jika berkunjung ke kota Makassar. Kampung ini terletak di Kabupaten Maros, sekitar tiga puluh menit dari Bandar Udara Hasanudin, sangat strategis untuk pengunjung yang ingin mampir sebelum beranjak meninggalkan Makassar.

Menarik karena terisolir
Kampung Berua sebenarnya bukanlah destinasi wisata. Tidak ada pintu masuk ataupun loket karcis yang tersedia. Hanya saja, kondisi kampungnya yang terisolir oleh sungai dan bukit kars, membuatnya menarik untuk menjadi alternatif tujuan wisata.

Untuk sampai ke Kampung Berua, pengunjung harus menempuh perjalanan dengan perahu dari dermaga kecil bernama Dermaga Rammang-Rammang. Dermaga ini adalah satu satunya akses yang menghubungkan Kampung Berua dengan jalan raya. Diperlukan perjalanan selama kurang lebih setengah jam. Di sepanjang perjalanan, mata akan disuguhi pemandangan bukit-bukit karang dan tumbuhan dipa yang mengelilingi sungai. Indah memang, namun jika berkunjung di siang hari harus rela menahan panas terik matahari.

Tenang di antara ladang dan tebing kars
Sampai di sudut sungai akan terlihat plang yang bertuliskan "selamat datang di kampung berua". Kampung ini hanya terdiri dari lima belas rumah dan sisanya adalah lahan pertanian dan kolam ikan berpagarkan tebing kars di segala sudut.

Cukup banyak pengunjung yang singgah di kampung ini. Bahkan ada pula yang membawa koper besar yang menandakan bahwa mereka menginap. Sadar bahwa kampungnya menjadi tujuan wisata, penduduk setempat tidak keberatan untuk disinggahi sampai menginap. Rumah-rumah mereka sudah seperti homestay yang siap menerima tamu menginap.

Kondisi kampung yang terisolir dan penuh dengan ladang hijau memberikan nuansa ketenangan bagi siapapun yang singgah ke kampung ini. Keindahan alamnya semakin sempurna dengan adanya gua di salah satu sudut kampung yang menjadi ikon daerah ini.  [rin]

Jumat, 01 November 2013

Sepenggal Jalan Syukur

Hari Kamis (31/10), saya berkunjung lagi ke Pondok Suruh Sleman, salah satu pondok pesantren yang diperuntukkan bagi anak-anak yatim. Sesampainya di Pondok saya celingukan mencari wajah mungil yang biasanya ribut di tengah orang-orang yang membaca doa sebelum berbuka. Tapi hari itu pencarian saya nihil. Syifa tidak terlihat batang hidungnya.

Selesai doa, saya menanyakan keberadaan Syifa pada salah satu santri. “Sudah pulang,” jawabnya. Yaah, ucap saya dalam hati. Syifa sudah kembali ke tangan ibunya sejak lebaran. Di satu sisi saya lega, anak itu bisa kembali berkumpul dengan ibunya. Tapi di sisi lain sedih juga karena tidak lagi bisa melihat wajah mungilnya.

Syifa adalah santri termuda di pondok. Anak ini menjadi seorang yatim di usianya yang baru tiga tahun. Ibunya terpaksa menitipkan Syifa ke pondok pesantren karena tak sanggup membiayai. Bisa dibayangkan, di usia yang masih sangat bergantung kepada orang tua, anak itu terpaksa berpisah dengan ibunya. Syifa menolak, namun ibunya tak punya pilihan. Sejak tinggal di pondok, anak itu menangis setiap malam. Setiap malam.

Saya bertemu anak ini pertama kali pada Bulan Februari, saat saya ke pondok pasca kepergian Bapak. Anak itu mencuri perhatian saya ketika membaca doa menjelang berbuka puasa. Sebagai anak baru, anak ini cukup cepat menghafal doa-doa. Saya pun tertarik mendekati anak ini.
Layaknya anak usia tiga tahun, tingkah polah Syifa memang sangat aktif dan sedikit susah diatur. Tidak ada raut sedih di wajah anak ini. Ada satu hal yang saya ingat darinya. Saat makan bersama, saya mencoba menyuapi Syifa dengan nasi box, dan dia bersedia dengan syarat. Dia hanya mau makan sesuai dengan porsinya. Sayapun harus menyisihkan nasi dan lauk sesuai dengan porsi yang dia minta, dan dia benar-benar menghabiskannya. Saat itu pasti Syifa berpikir. Dia diajarkan untuk tidak boleh menyisakan makanan, dan dia sudah mengira bahwa tidak mampu menghabiskan semua nasi boxnya. Akalnya mendorongnya untuk menyisihkannya di depan, supaya tidak mubazir di belakang. Pikiran yang cerdas untuk anak seusianya. Saya takjub.


Kehadiran Syifa di pondok membawa pelajaran tersendiri bagi saya. Lagi-lagi pelajaran untuk tak hentinya bersyukur. Saya ditinggalkan oleh Bapak di usia yang sudah cukup matang. Sedangkan Syifa dan anak-anak lain bahkan ditinggal bapak mereka di usia yang masih sangat kecil, bahkan harus hidup mandiri di pondok. Meski demikian, mereka tetap memperlihatkan raut wajah yang sumringah. Mereka tetap semangat.  Lantas kenapa saya harus sedih? Setidaknya saya masih lebih beruntung, saya diberi kesempatan untuk menikmati utuhnya keluarga selama 23 tahun. Mereka menularkan semangat yang luar biasa untuk saya pribadi. Sedih memang manusiawi, karena manusia tak bisa lepas dari segala musibah yang menjadi ujian. Tapi terlepas dari itu, tetap masih banyak hal yang patut disyukuri.

Sabtu, 06 Juli 2013

A Place Where the Art Begin

Studio visit to Nasirun Art House

Memasuki wilayah Perumahan Bayeman Permai yang terletak di Jl Wates Yogyakarta langsung bisa menangkap rumah mana yang menjadi griya milik seniman. Rumah yang penuh dengan tatanan tanaman hijau yang dikolaborasikan dengan bambu-bambu yang unik sangat mengesankan bahwa rumah itu milik seseorang yang berjiwa seni tinggi. Ya, mudah saja menebak bahwa rumah itu milik sang pelukis ternama Jogja, Nasirun.
Ruang Gallery

Memasuki rumah Nasirun saya disambut oleh Pipin, salah satu asistennya yang kemudian mengantarkan saya ke ruang Gallery yang berada di seberang rumahnya. Di perumahan itu, Nasirun memiliki tiga rumah yang bersebelahan. Satu rumah untuk ruang Gallery, satu untuk studio produksi karya, dan satu lagi untuk ditinggali bersama keluarga.
“Pak Nasirun sedang istirahat, silakan lihat-lihat dulu” kata Pipin, sambil berjalan ke Gallery. Sesampainya di Ruang Gallery, saya mendapati beberapa pengunjung lain yang sudah lebih dulu datang. Hari itu Gallery Nasirun sengaja diluangkan untuk studio visit yang menjadi salah satu rangkaian acara Festival Kesenian Yogyakarta.
Ornamen Buah Kelapa

Gallery dan Studio
Karya pertama yang saya jumpai saat pertama kali memasuki Ruang Gallery adalah sebuah patung kerbau karya Budi Ubrux yang sangat identik dengan artistik koran. Ruang Gallery terdiri dari dua lantai dengan konsep borderless, sedikit ruang untuk mengoptimalkan penempatan karya. Ruang utama di lantai satu digunakan untuk memajang karya-karya seniman Indonesia yang dikoleksi Nasirun. Sedangkan lantai dua digunakan untuk memajang karya-karya lain seperti wayang, sculpture, dan instalasi.


Keluar dari Ruang Gallery, pengunjung diajak memasuki rumah Nasirun yang lain, yaitu studio Nasirun. Rumah ini digunakan sebagai ‘dapur’ Nasirun dalam memproduksi karya-karyanya. Banyak sekali keunikan yang disuguhkan di studio ini. Bagian atas rumah ini terdapat buah kelapa sebanyak tujuh ratus buah yang digantung. Tentunya bukan kelapa sungguhan. “Maksud buah kelapa ini sederhana, kita hidup kan tidak bisa lepas dari tanaman ini,” terang Sigit, asisten Nasirun yang memandu pengunjung. Sama halnya dengan ruang Gallery, Studio ini juga terdiri dari lantai. Di lantai dua terpajang lukisan sepanjangan 50 meter yang baru saja diselesaikan Nasirun dkk untuk pameran di Bentara Budaya. Bila dilihat dari karya-karya yang ada di studionya, terlihat bahwa Nasirun selalu mengusung konsep budaya lokal di setiap karyanya.

Sosok Nasirun
Setelah cukup lama saya mengelilingi gallery dan studio, barulah Pak Nasirun menampakkan diri. Meskipun belum pernah bertemu langsung dengan seniman ini, namun kaos hitam, jins belel dan rambut gondrongnya cukup memudahkan saya untuk memastikan sosok Nasirun. Saya dan pengunjung lain kemudian diajak ke ruang tengah untuk ngobrol bersama. Dan nasirun pun mulai bercerita tentang perjalanan hidupnya.

Nasirun bersama pengunjung
Kesuksesan Nasirun sebagai seorang seniman ternyata tidak terlepas dari perjuangan hidup masa muda yang cukup berat. Sebelum menjadi seniman profesional, Nasirun sempat berjualan batik dan lukisan di wilayah Tamansari dan Malioboro. Titik balik kehidupan karirnya diawali ketika ada seorang penikmat seni asal Australia yang mengagumi lukisannya dan membawa karyanya untuk dipamerkan. Sejak itu karyanya mulai dikenal hingga dikoleksi oleh Oe Hong Djin, kolektor terkenal dari Magelang. Dan saat ini, Nasirun sudah memproduksi lebih dari 1000 karya yang menjadi koleksi banyak kolektor.