Minggu, 07 Mei 2017
Nostalgia Mengajar di Kota Pelajar
Sabtu, 14 Januari 2017
[Diary clipping] Andalusia Goes To National Museum
Oleh: Sini Sri Gusdinar
Hari Minggu aku diajak jalan-jalan ke museum nasional, aku mau cerita tentang jalan-jalan minggu lalu ya.
Aku jalan ke museum Gajah. Museum Nasional itu sering dipanggil Museum Gajah. Tahu kenapa? Soalnya ada patung gajahnya. Bisa dibilang museum itu keren banget, soalnya disitu banyak banget benda yang baru aku lihat, dari mulai tempat dan semua isinya, karena aku baru pertama datang ke Museum Gajah.
Disana banyak patung manusia purba, keren deh. Terus banyak miniatur rumah adat gitu, lucu banget. Tadinya kalau bisa, pengen aku bawa pulang. Tapi sayang banget dipegang juga nggak bisa.
Aku paling suka ke tempat yang banyak banget koleksi dari keramik sama emas. Ternyata mahkota-mahkota kerajaan dulu disimpan disitu banyak banget, dan itu semua dibikin dari emas. Oiya, disitu juga ada tempat orang ngebatik, dan bisa ikut nyobain juga. Ternyata ngebatik itu susah banget. Ada latihan nari gitu, tadinya pengen banget ikut, tapi karena nggak bisa gajadi deh. Ada juga pertunjukan musik tradisional juga. Kalian yang belum pernah ke museum gajah harus kesana ya, karena itu keren banget untuk ngisi waktu libur.
***
Oleh: Annisa FA
Minggu kemarin tepatnya tangga 9 Januari 2017, aku bersama teman-teman dan kakak kelas diajak jalan-jalan sama guru les inggris yang cantik dan baik hati. Kamu tahu aku diajak kemana? Ke museum nasional.
Aku senang sekali karena itu pertama kali aku kesana. Aku dan teman-teman naik grab car, sekitar pukul 10 WIB. Disana aku melihat banyak sekali benda yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Dan yang paling aku suka, waktu kami di lantai 4. Disana banyak sekali perhiasan kerajaan zaman dulu. Ah, andai saja aku boleh mengambil salah satu dari perhiasan tersebut, mungkin aku sudah kaya, hahaha.
Tiba-tiba saat melihat-lihat koleksi di lantai 3, Kak Novi merasa kepalanya pusing. Dan akhirnya kami turun ke bawah dan pulang mengantar ke asrama. Setelah mengantar kak Novi ke kamar, kami melanjutkan perjalanan untuk mengisi perut kami yang keroncongan. Kami tiba di sebuah tempat makan solo. Kami memesan makanan dan minuman, lalu menyantapnya bareng-bareng. Setelah semuanya beres, kami pulang ke asrama. Dan jalan-jalan hari minggu pun berakhir.
Selasa, 10 Januari 2017
A Little Vacation for Andalusias
Beside the gamelan corner, there was an old man making Batik (Indonesia traditional pattern). The girls came to the Batik corner and welcomed to practice making batik. The man gave the girls some patterned fabric, and what they need to do was just thickening the pattern using a tools called canting. This tools was just like a pen that filled with traditional ink. Everyone tried making batik one by one and realized that making batik was not that easy. They had to be careful in moving their hand, or the ink would just flowover the pattern. It needs a good accuracy and patience. That's why a hand made Batik is always expensive.![]() |
| Tabuik |
Kamis, 03 November 2016
Menteri Jonan: BPH Migas Perlu Diperkuat
3 Hal Penting Jadi Pemimpin
Satu hal paling penting yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuan memberi contoh. Hal itu disampaikan oleh Menteri ESDM, Ignasius Jonan.
"Yang lain-lain boleh nggak punya, tapi ini harus. Jadi pemimpin harus bisa jadi teladan,"ungkap Jonan pada saat memberikan pengarahan kepada seluruh staf BPH Migas di Gedung BPH Migas.
Hal penting lainnya yang juga perlu dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuan untuk bertanya dan menyuruh. "Kan yang ngerjakan nanti orang lain, kalo ngga bisa itu, nanti gimana bisa tahu pekerjaan seperti apa," paparnya.
Jonan menuturkan bahwa menjadi pemimpin tidak ada alasan untuk tidak tahu atas segala hal yang berada di bawah tanggung jawabnya. Maka wajib bagi pemimpin untuk punya kemampuan bertanya dan menyuruh dengan cara yang cerdas supaya tidak menimbulkan tekanan bagi orang lain.
"Kadang orang mau tanya kan sungkan ya. Misal ada perempuan, kita mau tanya sudah punya suami atau belum, kan nggak enak kalau tanya langsung begitu, nanti tersinggung. Coba tanya, suaminya dines dimana mbak? Oh saya blm punya suami pak. Kan lebih enak," kelakar Jonan memberi contoh yang kemudian disambut dengan tawa oleh para staf.
Alumnus Universitas Airlangga ini mengaku tidak pernah mencatat semasa kuliah, namun selalu mendapat nilai yang baik karena bermodal catatan teman. Tanpa memandang sebelah mata orang-orang yang rajin dan tekun, Jonan ingin menunjukkan bahwa setiap orang punya cara masing-masing untuk mencapai tujuannya. "Yang penting kita melakukannya dengan akal sehat," pesannya.
Rabu, 02 November 2016
Bartering a Little Wishes
I said I read some, but i don't have much. "I have a novel in my room if you want to read, but written in English," I offered.
Yahh.. I heard girls muttered. "Don't you have the common novel in bahasa?" Linda wished. She told me they rarely get books that meets their desire. "Look, we actually have a few books but no one read them," Linda said while pointed to a desk. She took one of the book and showed it to me. She showed me a novel written in English by Michael Scott, The Magician. "We also have a novel written in English, but we don't read it because we don't understand. We even don't know what this novel about." Linda explained the book she brought.
I gave a little smile, but actually I felt so pleased. This kind of novel was just my cup of tea. I ever though what else i can read after finished the latest novel of Harry Potter. I need another fantasy literature, but have no idea.
"Well, so what novel you love to read actually?" I asked them switching the topic.
Surprisingly, the other girl love that novel too, and they shared me the story about Tere Liye's novel they already read. Thought it would be good if they completed their desk with a novel the love.
***
You don't care, unless you're really there - Rene Suharsono
@dwilestarin / @kusdwilestarin
Senin, 29 Agustus 2016
Indonesia di Balik Lukisan Istana
Kutipan itu adalah ucapan mantan Presiden Sukarno atas lukisan Affandi yang dibuat di medan pertempuran Karawang - Bekasi tahun 1946. Lukisan berjudul Laskar Rakyat Mengatur Siasat I ini dibuat Affandi sebagai poster penyemangat untuk rakyat yang sedang berjuang kala itu. Bertuliskan "Tetap Merdeka" Affandi seolah ingin menunjukkan kontribusinya untuk perjuangan Indonesia melalui apa yang dia bisa. Lukisan itu kemudian diminta oleh Sukarno dan menjadi koleksi istana presiden di Yogyakarta.
Di balik goresan yang indah secara visual, lukisan istana ternyata menyimpan pengalaman heroik dari Sang Seniman. Pada masa perang paska kemerdekaan, Affandi dan kawan-kawan melibatkan diri di medan pertempuran dan melukis secara langsung suasana di lapangan. Inilah mungkin, yang menjadikan lukisan - lukisan para pelukis legendaris itu menjadi demikian berharga.
Persembahan Istana
Koleksi istana karya Affandi dan seniman-seniman legendaris lain yang menyimpan beragam nilai nasionalisme dipamerkan pada Pameran bertajuk 17:71, Goresan Juang Kemerdekaan. Pameran yang diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia pada tanggal 1 - 30 Agustus 2016 ini diselenggarakan dalam rangka memperingati 71 tahun Indonesia merdeka. Pameran ini menampilkan 28 lukisan dari 20 pelukis ternama tanah air, ditambah 1 lukisan Sukarno.
Selain sebagai ajang apresiasi seni dari istana negara, pameran ini juga mampu menjadi ajang edukasi bagi masyarakat umum. Generasi muda sekarang mungkin tak banyak yang tahu tentang karya-karya maestro seni Indonesia. Untuk itu, tak hanya sekedar memamerkan karya, pihak penyelenggara juga mengadakan tur galeri bersama kurator dan jurnalis seni di akhir pekan. Pengunjung didampingi dan diberi wawasan seputar karya-karya koleksi istana yang bernilai tinggi.
Tak Lepas dari Yogyakarta
Hal menarik lain tentang fakta sejarah yang dapat ditemukan dalam pameran ini adalah keeratan masa perjuangan Bangsa Indonesia dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tak kurang 8 dari 28 lukisan yang dipamerkan bersentuhan dengan kota gudeg ini. Narasi-narasi yang mengulas cerita dan sejarah karya seni mengetengahkan Yogyakarta sebagai kota perjuangan yang istimewa. Selain memang sempat menjadi ibukota negara di masa kekacauan paska kemerdekaan, Yogyakarta adalah asal muasal pelukis maestro tanah air. Di Yogyakarta pula, organisasi Seniman Muda Indonesia berawal dan sering mendapat kunjungan dari Sukarno.
Biografi II Malioboro karya Harijadi Sumadjijaja adalah salah satu karya yang membawa Yogyakarta dalam judul dan tema lukisan. Malioboro diusung sebagai representatif kompleksitas yang dapat ditemui di Yogyakarta. Dalam lukisannya yang bergaya surealistik, kawasan tenar ini tergambar sangat sibuk dengan perpaduan beragam aktivitas di dalamnya.
@dwilestarin / kusdwilestarin
