Halaman

Kamis, 03 November 2016

3 Hal Penting Jadi Pemimpin

Satu hal paling penting yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuan memberi contoh. Hal itu disampaikan oleh Menteri ESDM, Ignasius Jonan.

"Yang lain-lain boleh nggak punya, tapi ini harus. Jadi pemimpin harus bisa jadi teladan,"ungkap Jonan pada saat memberikan pengarahan kepada seluruh staf BPH Migas di Gedung BPH Migas.

Hal penting lainnya yang juga perlu dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuan untuk bertanya dan menyuruh. "Kan yang ngerjakan nanti orang lain, kalo ngga bisa itu, nanti gimana bisa tahu pekerjaan seperti apa," paparnya.

Jonan menuturkan bahwa menjadi pemimpin tidak ada alasan untuk tidak tahu atas segala hal yang berada di bawah tanggung jawabnya. Maka wajib bagi pemimpin untuk punya kemampuan bertanya dan menyuruh dengan cara yang cerdas supaya tidak menimbulkan tekanan bagi orang lain.

"Kadang orang mau tanya kan sungkan ya. Misal ada perempuan, kita mau tanya sudah punya suami atau belum, kan nggak enak kalau tanya langsung begitu, nanti tersinggung. Coba tanya, suaminya dines dimana mbak? Oh saya blm punya suami pak. Kan lebih enak," kelakar Jonan memberi contoh yang kemudian disambut dengan tawa oleh para staf.

Alumnus Universitas Airlangga ini mengaku tidak pernah mencatat semasa kuliah, namun selalu mendapat nilai yang baik karena bermodal catatan teman. Tanpa memandang sebelah mata orang-orang yang rajin dan tekun, Jonan ingin menunjukkan bahwa setiap orang punya cara masing-masing untuk mencapai tujuannya. "Yang penting kita melakukannya dengan akal sehat," pesannya.

Rabu, 02 November 2016

Bartering a Little Wishes

Sunday morning (30/10) at a dorm of orphans

As i guessed, the girls had a free time to do anything for themselves like washing clothes, ironing, or even take a nap. As I entered the girl's rooms and sat in some space in the corner, the girls greeted me then moved and sat around me immediately.

We discussed their homework for appetizer, then had a fun long chat. They loved to share me anythings about their dorm, school, teacher, and their hobbies. 

"Do you like novel?" Icha asked me then told me how they love to read novel but only have few of it given from visitors. They often borrow novel from their schoolmate or school library.

I said I read some, but i don't have much. "I have a novel in my room if you want to read, but written in English," I offered.

Yahh.. I heard girls muttered. "Don't you have the common novel in bahasa?" Linda wished. She told me they rarely get books that meets their desire. "Look, we actually have a few books but no one read them," Linda said while pointed to a desk. She took one of the book and showed it to me. She showed me a novel written in English by Michael Scott, The Magician. "We also have a novel written in English, but we don't read it because we don't understand. We even don't know what this novel about." Linda explained the book she brought.

"Hmm, it seems a great fantasy novel," i said while taking the book. I actually don't really know about that novel. But read it in glance i got what this book probably about. "This book is really good for learning English." Still hold and open some pages, i said that this book must have a great story just like another Harry Potter, my favorite novel.

"Ya, but we don't understand," Icha said. "You can have it if you like," she then offered me. 

"Yaa, it would be more useful if you read it than just stay on our desk," Linda added. Then others girls followed saying yaa indicated there's no objection at all. 

I gave a little smile, but actually I felt so pleased. This kind of novel was just my cup of tea. I ever though what else i can read after finished the latest novel of Harry Potter. I need another fantasy literature, but have no idea.

"Well, so what novel you love to read actually?" I asked them switching the topic.

"I love Tere Liye's," Icha mumbled with a dreaming expression while clapped her hand in front her chest. And her sound followed by other girls that in line with her.

"Tere Liye? You love his books?" 

"Yaa! I'd read some and i love it," Icha answered enthusiastically. "Tentang Kamu is the latest novel. But I still wait the school to have it so I can borrow."

Surprisingly, the other girl love that novel too, and they shared me the story about Tere Liye's novel they already read. Thought it would be good if they completed their desk with a novel the love.


***

You don't care, unless you're really there - Rene Suharsono

@dwilestarin / @kusdwilestarin

Senin, 29 Agustus 2016

Indonesia di Balik Lukisan Istana

Ini bukan poster biasa, tetapi lukisan yang sangat bagus.

Kutipan itu adalah ucapan mantan Presiden Sukarno atas lukisan Affandi yang dibuat di medan pertempuran Karawang - Bekasi tahun 1946. Lukisan berjudul Laskar Rakyat Mengatur Siasat I ini dibuat Affandi sebagai poster penyemangat untuk rakyat yang sedang berjuang kala itu. Bertuliskan "Tetap Merdeka" Affandi seolah ingin menunjukkan kontribusinya untuk perjuangan Indonesia melalui apa yang dia bisa. Lukisan itu kemudian diminta oleh Sukarno dan menjadi koleksi istana presiden di Yogyakarta.

Di balik goresan yang indah secara visual, lukisan istana ternyata menyimpan pengalaman heroik dari Sang Seniman. Pada masa perang paska kemerdekaan, Affandi dan kawan-kawan melibatkan diri di medan pertempuran dan melukis secara langsung suasana di lapangan. Inilah mungkin, yang menjadikan lukisan - lukisan para pelukis legendaris itu menjadi demikian berharga.

Persembahan Istana
Koleksi istana karya Affandi dan seniman-seniman legendaris lain yang menyimpan beragam nilai nasionalisme dipamerkan pada Pameran bertajuk 17:71, Goresan Juang Kemerdekaan. Pameran yang diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia pada tanggal 1 - 30 Agustus 2016 ini diselenggarakan dalam rangka memperingati 71 tahun Indonesia merdeka. Pameran ini menampilkan 28 lukisan dari 20 pelukis ternama tanah air, ditambah 1 lukisan Sukarno.

Selain sebagai ajang apresiasi seni dari istana negara, pameran ini juga mampu menjadi ajang edukasi bagi masyarakat umum. Generasi muda sekarang mungkin tak banyak yang tahu tentang karya-karya maestro seni Indonesia. Untuk itu, tak hanya sekedar memamerkan karya, pihak penyelenggara juga mengadakan tur galeri bersama kurator dan jurnalis seni di akhir pekan. Pengunjung didampingi dan diberi wawasan seputar karya-karya koleksi istana yang bernilai tinggi.

Tak Lepas dari Yogyakarta
Hal menarik lain tentang fakta sejarah yang dapat ditemukan dalam pameran ini adalah keeratan masa perjuangan Bangsa Indonesia dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tak kurang 8 dari 28 lukisan yang dipamerkan bersentuhan dengan kota gudeg ini. Narasi-narasi yang mengulas cerita dan sejarah karya seni mengetengahkan Yogyakarta sebagai kota perjuangan yang istimewa. Selain memang sempat menjadi ibukota negara di masa kekacauan paska kemerdekaan, Yogyakarta adalah asal muasal pelukis maestro tanah air. Di Yogyakarta pula, organisasi Seniman Muda Indonesia berawal dan sering mendapat kunjungan dari Sukarno.

Biografi II Malioboro karya Harijadi Sumadjijaja adalah salah satu karya yang membawa Yogyakarta dalam judul dan tema lukisan. Malioboro diusung sebagai representatif kompleksitas yang dapat ditemui di Yogyakarta. Dalam lukisannya yang bergaya surealistik, kawasan tenar ini tergambar sangat sibuk dengan perpaduan beragam aktivitas di dalamnya.

@dwilestarin / kusdwilestarin

Sabtu, 07 Mei 2016

Jadi Guru Sehari di Kelas Inspirasi

Bersamaan dengan hari Pendidikan Nasional, Senin, 2 Mei 2016, ada ratusan sekolah dasar di Ibukota yang kedatangan guru-guru baru. Mereka adalah pengajar sukarela yang terdiri dari beragam profesi untuk mengajar anak-anak SD melalui program Kelas Inspirasi. Di program ini, para profesional dari berbagai bidang ditantang untuk mengajar anak-anak sekolah dasar tentang profesi masing-masing. Tujuannya supaya anak-anak tersebut nantinya terinspirasi sehingga punya mimpi yang tinggi dan cita-cita yang luas.

SDN 16 Pagi kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta adalah salah satu sekolah dasar yang mendapat pengalaman baru itu. Sebanyak 18 relawan dari beragam latar belakang profesi menggantikan para guru untuk mengajar disana. Antusiasme sekolah sangat besar di hari yang tak biasa itu. Para siswa menyambut relawan ini dengan penampilan marching band di akhir upacara bendera.

Proses mengajar berjalan layaknya jam pelajaran sekolah biasanya. Hanya saja murid-murid yang biasanya bertatapan dengan satu guru yang sama untuk keseluruhan jam pelajaran, hari itu bertemu dengan guru yang berbeda-beda. Setiap guru tentunya membawakan materi yang beragam sesuai dengan latar belakang pekerjaan masing-masing.

Satu hal yang menantang dalam kegiatan ini adalah bagaimana menyampaikan materi terkait profesi kepada murid-murid yang mudah dicerna. Terlebih, jika bidang yang ditekuni masih cukup asing bagi anak-anak. Salah satu profesi relawan yang turut mengajar adalah analis distribusi migas. Menyampaikan materi terkait migas perlu pendekatan dari hal-hal yang dekat dengan lingkungan para murid supaya memudahkan mereka memahami apa yang disampaikan. Materi disampaikan melalui foto, gambar, dan permainan-perminan edukatif. Alhasil, anak-anak lebih mudah dalam menangkap materi yang diberikan dan tidak bosan.

Menjajal mengajar murid-murid sekolah dasar di kelas tentunya memberikan pengalaman dan nilai baru bagi para relawan yang berpartisipasi. Mereka yang tujuan awalnya menginspirasi, justru pada akhirnya lebih banyak terinspirasi atas kegiatan ini.

@dwilestarin

Sabtu, 09 April 2016

A Night at The Orphanage

It was friday evening when i came to one of orphanage in South Jakarta. It's not my first time came there, but i usually i come at Saturday morning to give additional lesson for the teens. At that day, i specially came just to follow their activity after school.

Evening activity
We did maghrib prayer together in mosque. After had some dhikr, i followed them to read Al-Mulk as their habit every friday.  The teens read it so well and fast. It took only few minutes to finish 30 verses. If i do it my self, it probably need some longer time.

After finished reading Quran, we had a supper while listened to the Ustadz's advices. When we did eating, Linda, one of the teens, asked me for the additional lesson for the following morning. "Iya, besok aku kesini lagi kaya biasa," i said.

"Kenapa nggak nginap disini aja, Kak? Tidur bareng-bareng sama kita!" Linda begged me to stay. Wow, it never cross in my head, but it sounds fun. Since i didn't have anything else to do, i nod to her. "But asked to your Ustadz first if i am allowed," i said. She then ran asked her Ustadz and he said yes.

I then continued following their next activity after Isya to watch movie. We watched Final Destination until 10 pm. After that, we moved to the girls dorm to have a sleep.

At the Girls Dorm
I have ever seen girl's dorm before. There's only two rooms for the girls in the 2nd floor. Each room consist of about ten persons or more. Each room provided by two bathrooms in the corner and some small cupboards around the wall. Eight beds lined on the floor for sleep. "Disini, Kak. Kakak tidur sama aku," Linda show me one bed facing the fan. Unlike another naked bed, my bed already covered by a sheath and pillow. What a kind girl.

It's already 11 pm and the girls still had a chat. They talked with Sunda's language so i don't understand what they talked about. I just listened to them. I was sleepy.

"Panas ya Kak?" Another girl asked me. She looked worry if i wasn't comfort. "Nggak kok, sama aja kaya di kosanku," i said little bit lying. It was very hot, indeed. I just couldn't imagine how can i sleep with this heat. I started sweating.

Can't sleep
Almost 12 pm and they're still awake. "Kalian jam segini belum tidur, biasanya tidur jam berapa?" I asked.
"Kita mah malem tidurnya, ngobrol dulu. Nanti jam 3 udah bangun lagi, tahajud," Linda answered. Wow, how can they make it? I talked to my head.

When we still had a chat, there's a rat passed in front of us. "Oiya Kak, disini banyak tikus. Tikusnya besar-besar," Icha informed me. They then talked about the rat living in their rooms. "Kadang suka gigitin kaki aku kalau tidur," Linda said and laugh.

They laugh instead of complain. They even didn't feel annoyed with their condition. They enjoy the rooms, they enjoy the heat, they enjoy their life. What a great soul.

12 pm i started to sleep while the girls still keep talking. I laid my body and closed my eyes, pretended to sleep. 1 am, I still couldn't sleep and still heard them keep talking. I just moved my body from right to left. When i moved to my left side, there's a cat right beside me. Whoaa, so i sleep with the cat and rat around me? Well, these girls have it every night.

I didn't know when i finally slept. At 4.30 am, Linda woke me up for Subuh prayer. I woke up and went to the mosque. After Subuh, we did dhikr and read Al-Waqiah. After that, we back to rooms and continued sleeping.

6.30 am i woke up by my self and found that there was only my bed in the floor. Other beds were already piled up in the corner. The girls already woke up. I saw Nova brought a broom on her hand. I then put my bed to the corner right away so that she can sweep the whole floor.

I really want to take a shower, but didn't bring my towel. I feel really uncomfort with my hair and my clothes. I really want to back home, but i still have to give them additional 'class' as i promised on previous day.

I waited the girls to finish their own activity. Some had a shower, ironing the clothes, swab the floor, etc. At 9 am, as they already finished, I open my notebook and started the 'class'. We did listening session until 10 am.

What a great experience spend a night at the orphanage. I found many things to learn from that unforgetable night. A good praying schedule, a sisterhood, and a friendliness. And finally, i learnt to be more grateful of what i got and enjoy the life.

@dwilestarin

Kamis, 07 April 2016

Baduy, Suku Pedalaman yang Berteman dengan Jaman

Rabu(6/4), musik angklung bersahutan di halaman Bentara Budaya Jakarta. Musik ini dimainkan oleh orang-orang Suku Baduy yang merupakan sepenggal dari ritual menjelang menanam padi. Malam itu Bentara tengah disulap menjadi perkampungan Baduy dengan rumah tradisional, jembatan bambu, serta iringan musik tenun dan tumbukan padi. Welcome to Baduy
Permainan musik itu ditampilkan dalam rangka pembukaan Pameran Baduy yang diselenggarakan tanggal 6-10 April 2016 di Bentara Budaya Jakarta. Pameran dibuka dengan konser bertajuk "Membaca Baduy". Selain permainan angklung, konser dimeriahkan pula oleh Jodi yudono, redaktur Kompas yang mengarang tiga lagu bertemakan Baduy. Berkolaborasi dengan Tlaga Swara dan warga Suku Baduy, Jodi membawakan lagu-lagunya dengan sangat apik.
Selain konser musik, pembukaan pameran itu menghadirkan Pak Sarpin, warga Baduy Luar yang menjadi pelopor sukunya untuk peduli pendidikan dan tidak terus menerus menutup mata terhadap dunia luar. Baduy memang dikenal masih sangat memegang erat adat. Pendidikan dilarang karena dikhawatirkan akan digunakan untuk minterin orang yang bertentangan dengan nilai leluhur mereka.
Keluarga Sarpin bisa dikatakan 'permberontak adat' demi kebaikan generasi masa depan. Menurutnya, baca tulis diperlukan untuk bisa lebih mudah bersosialisasi dengan orang lain. Demikian pula bisnis hasil karya yang mereka miliki. Kain tenun Baduy yang mereka buat kini mulai dipasarkan keluar wilayah mereka. Kini Suku Baduy semakin terbuka dengan jaman tanpa mengubah nilai-nilai budaya yang mereka miliki. Melalui pameran ini, Suku baduy memperkenalkan jati diri mereka yang ramah dan menerima kemajuan untuk hadir di tengah adat istiadat yang tetap mereka pegang erat.
@dwilestarin

Senin, 04 April 2016

Peduli Tak Harus ke Ujung Negeri

Sabtu pagi, anak-anak salah satu panti Asuhan di Jakarta Selatan berkumpul untuk belajar Bahasa Inggris. Kia adalah salah satu anak yang cukup bersemangat dibandingkan teman-temannya yang lain. Ketika teman-temannya mengelak untuk mencoba bermain game bahasa Inggris karena kurang percaya diri dan malu, anak kelas 1 SMK ini justru mengajukan diri dengan senang hati. Dia cukup percaya diri dan aktif meskipun usianya lebih muda dari teman-temannya yang duduk di bangku setingkat lebih tinggi.

Pada salah satu sesi permainan, Kia dan teman-temannya diminta berpasangan untuk mendeskripsikan dan menebak suatu kata yang tertulis pada kartu berwarna merah. Dalam kartu itu tertulis nama-nama pulau besar di Indonesia. Setiap anak harus mendeskripsikan pulau yang dimaksud dengan bahasa Inggris supaya pasangannya bisa menebak pulau yang dimaksud. Mereka bisa mengimajinasikan peta Indonesia kemudian mendeskripsikan letak pulau dari pulau di sekelilingnya.

Seperti yang sudah-sudah, Kia antusias untuk menjadi yang pertama menjajal permainan ini. Dia memilih untuk memberikan clue untuk ditebak oleh partnernya. Ada banyak kartu yang dapat dipilih dan masing bertuliskan beragam nama pulau yang berbeda-beda. Kia pun mengambil salah satu kartu. Dia mendapatkan kata 'Bali'. Kia harus menjelaskan segala hal yang terkait dengan pulau dewata ini supaya temannya bisa menebak dengan benar, entah dengan letaknya yang berada di sebelah timur pulau jawa, atau mungkin dengan menyebutkan budaya tarian khas yang sudah sangat terkenal. Ini mudah, seharusnya.

Namun Kia yang biasanya langsung aktif tidak juga segera memulai percakapannya. Dia tersenyum kemudian menggelengkan kepala. Kia pun dituntun untuk mendeskripsikan letak pulau yang dimaksud dari pulau jawa. Namun dia masih menggeleng. "Nggak tau," ucapnya. Dirinya tidak tahu letak Pulau Bali yang sedemikian terkenalnya. Anak ini mendapatkan Pulau Bali yang hanya bertetangga dengan Pulau Jawa saja sangat kesulitan. Terbayang bukan bagaimana peliknya mendeskripsikan pulau-pulau lain yang lebih jauh dari jawa?

Tanpa bermaksud mengumbar kekurangan pada anak, kesulitan anak seaktif Kia tentunya menjadi kesulitan yang sama bagi teman-temannya yang lain. Karena mendeskripsikan berpasangan dirasa berat, permainan dilanjutkan hanya dengan menebak pulau yang dimaksud. Anak-anak diberikan clue terkait letak pulau yang dimaksud di antara pulau lain di Indonesia. Dan benar saja, mereka cukup kesulitan.

Ternyata tidak semua anak sekolah paham dengan baik letak geografis Indonesia. Padahal, mereka sekolah di Ibukota dan sudah setingkat SMA. Sangat miris, mengingat pelajaran geografi sudah diajarkan sejak di bangku Sekolah Dasar. Demikian halnya dengan beban berbahasa Inggris yang membuat permainan yang mereka lakukan semakin pelik.

Melihat kenyataan itu, beban pendidikan di Indonesia ternyata tak hanya pada kondisi geografisnya yang punya banyak pulau terpencil sehingga sulit dapat pendidikan yang berkualitas. Nyatanya, di Ibukota pun pendidikannya belum cukup. Wilayah pelosok negeri memang butuh uluran tangan ekstra. Namun, kota-kota besar pun tak dapat dikesampingkan. Indonesia butuh dukungan pendidikan di berbagai sudut wilayahnya. Ini berarti, kesempatan membantu anak-anak Indonesia bisa ditemukan dimanapun selama mau peka dan peduli atas keadaan sekitar. Bantu saja dari yang paling dekat, apapun bentuknya.