Kamis, 31 Oktober 2013

Sepenggal Jalan Syukur

Hari Kamis (31/10), saya berkunjung lagi ke Pondok Suruh Sleman, salah satu pondok pesantren yang diperuntukkan bagi anak-anak yatim. Sesampainya di Pondok saya celingukan mencari wajah mungil yang biasanya ribut di tengah orang-orang yang membaca doa sebelum berbuka. Tapi hari itu pencarian saya nihil. Syifa tidak terlihat batang hidungnya.

Selesai doa, saya menanyakan keberadaan Syifa pada salah satu santri. “Sudah pulang,” jawabnya. Yaah, ucap saya dalam hati. Syifa sudah kembali ke tangan ibunya sejak lebaran. Di satu sisi saya lega, anak itu bisa kembali berkumpul dengan ibunya. Tapi di sisi lain sedih juga karena tidak lagi bisa melihat wajah mungilnya.

Syifa adalah santri termuda di pondok. Anak ini menjadi seorang yatim di usianya yang baru tiga tahun. Ibunya terpaksa menitipkan Syifa ke pondok pesantren karena tak sanggup membiayai. Bisa dibayangkan, di usia yang masih sangat bergantung kepada orang tua, anak itu terpaksa berpisah dengan ibunya. Syifa menolak, namun ibunya tak punya pilihan. Sejak tinggal di pondok, anak itu menangis setiap malam. Setiap malam.

Saya bertemu anak ini pertama kali pada Bulan Februari, saat saya ke pondok pasca kepergian Bapak. Anak itu mencuri perhatian saya ketika membaca doa menjelang berbuka puasa. Sebagai anak baru, anak ini cukup cepat menghafal doa-doa. Saya pun tertarik mendekati anak ini.
Layaknya anak usia tiga tahun, tingkah polah Syifa memang sangat aktif dan sedikit susah diatur. Tidak ada raut sedih di wajah anak ini. Ada satu hal yang saya ingat darinya. Saat makan bersama, saya mencoba menyuapi Syifa dengan nasi box, dan dia bersedia dengan syarat. Dia hanya mau makan sesuai dengan porsinya. Sayapun harus menyisihkan nasi dan lauk sesuai dengan porsi yang dia minta, dan dia benar-benar menghabiskannya. Saat itu pasti Syifa berpikir. Dia diajarkan untuk tidak boleh menyisakan makanan, dan dia sudah mengira bahwa tidak mampu menghabiskan semua nasi boxnya. Akalnya mendorongnya untuk menyisihkannya di depan, supaya tidak mubazir di belakang. Pikiran yang cerdas untuk anak seusianya. Saya takjub.


Kehadiran Syifa di pondok membawa pelajaran tersendiri bagi saya. Lagi-lagi pelajaran untuk tak hentinya bersyukur. Saya ditinggalkan oleh Bapak di usia yang sudah cukup matang. Sedangkan Syifa dan anak-anak lain bahkan ditinggal bapak mereka di usia yang masih sangat kecil, bahkan harus hidup mandiri di pondok. Meski demikian, mereka tetap memperlihatkan raut wajah yang sumringah. Mereka tetap semangat.  Lantas kenapa saya harus sedih? Setidaknya saya masih lebih beruntung, saya diberi kesempatan untuk menikmati utuhnya keluarga selama 23 tahun. Mereka menularkan semangat yang luar biasa untuk saya pribadi. Sedih memang manusiawi, karena manusia tak bisa lepas dari segala musibah yang menjadi ujian. Tapi terlepas dari itu, tetap masih banyak hal yang patut disyukuri.